Setelah proses hukum yang seringkali panjang dan melelahkan selesai, fase rehabilitasi dan pemulihan menjadi sangat krusial bagi anak korban kekerasan. Ini adalah tahap di mana anak perlu mendapatkan program komprehensif, baik fisik maupun psikologis, agar dapat kembali berintegrasi dengan masyarakat secara utuh. Fokus utama pada tahap ini adalah menyembuhkan luka batin dan fisik, serta membangun kembali rasa percaya diri anak untuk menatap masa depan.
Program rehabilitasi dan pemulihan yang efektif harus dirancang secara individual, disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap anak korban. Trauma yang dialami anak bisa sangat bervariasi, tergantung jenis kekerasan, durasi, dan respons lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan yang personal sangat diperlukan untuk memastikan setiap anak mendapatkan dukungan yang tepat, sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal.
Aspek psikologis dalam rehabilitasi dan pemulihan adalah yang paling vital. Anak korban seringkali mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD), depresi, kecemasan, atau kesulitan dalam membangun hubungan sosial. Psikolog anak akan menggunakan berbagai terapi, seperti terapi bermain, terapi seni, atau konseling individual, untuk membantu anak memproses trauma dan mengembangkan mekanisme koping yang sehat, memulihkan kesehatan mental mereka.
Selain dukungan psikologis, rehabilitasi dan pemulihan juga mencakup aspek fisik. Jika kekerasan meninggalkan cedera fisik, anak perlu mendapatkan perawatan medis yang berkelanjutan hingga pulih sepenuhnya. Penting juga untuk memastikan gizi yang cukup dan lingkungan yang bersih, mendukung kesehatan fisik anak sebagai bagian dari proses pemulihan yang holistik, menjaga kesehatan fisik dan mental.
Kembalinya anak ke lingkungan sosial juga merupakan bagian penting dari rehabilitasi dan pemulihan. Ini bisa melibatkan dukungan untuk kembali bersekolah, berpartisipasi dalam kegiatan komunitas, atau membangun kembali hubungan dengan teman sebaya dan keluarga yang mendukung. Proses ini harus dilakukan secara bertahap dan dengan dukungan penuh, memastikan anak merasa diterima dan tidak terstigma, sehingga anak dapat bersosialisasi kembali.
Peran keluarga dan masyarakat dalam rehabilitasi dan pemulihan ini sangat besar. Keluarga perlu diberikan edukasi tentang cara mendukung anak korban dan menghindari stigma. Masyarakat juga harus menciptakan lingkungan yang inklusif, menerima anak korban tanpa prasangka, dan memberikan kesempatan yang sama. Solidaritas sosial adalah kunci keberhasilan anak dalam berintegrasi kembali, agar anak merasa didukung dan diterima.
Pemerintah dan organisasi non-pemerintah (LSM) memiliki tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas dan tenaga ahli yang memadai untuk rehabilitasi dan pemulihan. P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) adalah contoh lembaga yang menyediakan layanan ini. Namun, diperlukan peningkatan kapasitas dan penyebaran fasilitas yang lebih merata, terutama di daerah terpencil, sehingga layanan ini dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan.
