Proses Penyulingan minyak nilam secara tradisional di Aceh telah lama diakui dunia sebagai penghasil patchouli oil bermutu terbaik dengan kadar patchouli alcohol yang sangat tinggi. Minyak atsiri murni hasil ekstrak daun nilam ini menjadi bahan baku utama pengikat aroma yang paling dicari oleh industri parfum mewah internasional di Eropa. Masyarakat Aceh memanfaatkan metode penyulingan uap tradisional menggunakan ketel kukus berbahan stenlis atau kayu untuk mengekstrak kandungan minyak berharga dari daun nilam kering. Keahlian penyulingan yang diwariskan secara turun-temurun ini terbukti mampu menjaga kemurnian dan keharuman aroma minyak nilam khas tanah Rencong.
Tahapan awal pengerjaan dimulai dari proses memanen tanaman nilam yang telah berumur sekitar enam hingga delapan bulan di perkebunan warga. Daun dan ranting muda nilam dipotong, lalu dijemur di bawah naungan tempat teduh selama beberapa hari agar kadar airnya berkurang hingga tingkat kelembapan ideal. Proses pengeringan yang benar sangat penting; daun nilam tidak boleh dijemur di bawah terik matahari langsung karena dapat menguapkan zat minyak atsiri berharga yang terkandung di dalam pori-pori daun. Daun nilam yang sudah layu sempurna kemudian dicacah kecil-kecil agar muatan drum kukus dapat terisi secara padat dan merata.
Cacahan daun nilam kering dimasukkan ke dalam ketel penyulingan di atas saringan berlubang yang berada di atas genangan air bersih. Proses Penyulingan dimulai ketika tungku kayu bakar di bawah ketel dinyalakan untuk menghasilkan uap air panas bertekanan stabil. Uap panas yang membumbung naik menerobos tumpukan daun nilam akan membuka sel-sel kelenjar minyak, membawa molekul minyak atsiri mengalir menuju pipa pendingin kondensor. Di dalam pipa kondensor berpendingin air mengalir, uap bercampur minyak tersebut mengalami pengembunan kembali menjadi cairan emulsi yang ditampung dalam wadah pemisah khusus di ujung pipa penyulingan.
Cairan hasil kondensasi akan terpisah secara alami di dalam tabung pemisah karena adanya perbedaan berat jenis antara air murni dan minyak nilam. Minyak nilam murni yang mengapung di bagian atas permukaan ditampung ke dalam botol atau drum penyimpan kedap udara yang terbebas dari paparan sinar matahari langsung. Warna minyak nilam Aceh yang berkualitas tinggi ditandai dengan cairan berwarna cokelat keemasan jernih serta memancarkan aroma kayu dan tanah yang sangat harum mendalam. Minyak atsiri murni ini memiliki ketahanan aroma yang sangat lama, menjadikannya komoditas herbal bernilai jual sangat tinggi di pasar ekspor.
Keberhasilan produksi minyak nilam Aceh terus memberikan kontribusi besar bagi peningkatan kesejahteraan para petani lokal serta perekonomian daerah. Melalui Proses Penyulingan yang cermat dan berkesinambungan, reputasi minyak nilam Indonesia di mata industri kimia minyak atsiri dunia tetap terjaga dengan sangat baik. Pemerintah bersama institusi riset terus memberikan pendampingan teknologi penyulingan yang ramah lingkungan guna meningkatkan efisiensi rendemen minyak yang dihasilkan. Penguatan rantai pasok minyak nilam ini diharapkan mampu mengokohkan posisi Aceh sebagai pusat produsen minyak atsiri terdepan di kancah global.
