Kawanan satwa dilindungi kembali masuk ke pemukiman dan merusak puluhan hektar tanaman siap panen milik masyarakat di daerah perbatasan hutan. Peristiwa konflik alam Perkebunan Warga tersebut memicu kerugian materiil hingga ratusan juta rupiah serta menimbulkan kepanikan luar biasa bagi warga desa. Tanaman kelapa sawit, pisang, dan jagung yang menjadi sumber mata pencaharian utama warga hancur berantakan diinjak-injak oleh puluhan ekor satwa bertubuh besar tersebut. Masyarakat terpaksa melakukan ronda malam secara bergantian guna menghalau kawanan mamalia darat tersebut agar tidak masuk ke area pemukiman.
BKSDA bersama tim konservasi gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan upaya penggiringan satwa kembali ke dalam kawasan taman nasional. Penanganan konflik area Perkebunan Warga ini dilakukan menggunakan petasan dan gajah jinak terlatih guna menghindari terjadinya insiden kekerasan pada satwa terlindungi tersebut. Petugas menjelaskan bahwa menyempitnya alur koridor jelajah serta berkurangnya sumber makanan di dalam hutan menjadi pemicu utama masuknya kawanan satwa ke lahan pertanian. Solusi jangka panjang berupa pembuatan parit pembatas dan pagar listrik mulai diusulkan secara serius.
Masyarakat desa mendesak pemerintah untuk segera memberikan bantuan ganti rugi atas kerusakan tanaman pertanian yang menjadi modal hidup mereka. Konflik yang merusak Perkebunan Warga ini jika dibiarkan tanpa penanganan tuntas dikhawatirkan dapat memicu aksi anarkis warga terhadap keberadaan satwa terlindungi tersebut. Pemerintah daerah berjanji akan mengalokasikan anggaran bantuan darurat musibah bencana pertanian bagi para petani yang terdampak musibah ini. Pendampingan mitigasi konflik satwa dan manusia juga akan ditingkatkan secara intensif oleh para ahli.
Para ahli lingkungan menyarankan agar pola tanam warga di sekitar batas hutan disesuaikan dengan jenis tanaman yang tidak disukai oleh satwa liar. Pembangunan benteng vegetasi alami di sepanjang garis perbatasan hutan juga dinilai sangat efektif untuk mencegah satwa menyeberang ke area pemukiman. Kerjasama antara pengelola taman nasional, pemerintah daerah, dan warga lokal merupakan kunci utama dalam mewujudkan keharmonisan hidup berdampingan dengan alam. Kelestarian satwa dan keselamatan ekonomi warga harus diupayakan secara seimbang.
Upaya penggiringan kawanan satwa liar menuju habitat aslinya kini dilaporkan telah membuahkan hasil positif tanpa adanya korban jiwa dari kedua belah pihak. Pengawasan ketat di garis perbatasan pemukiman tetap dipertahankan oleh tim satgas gabungan hingga situasi benar-benar aman terkendali. Pemerintah berkomitmen untuk terus mencari formula terbaik dalam mengatasi krisis interaksi manusia dan satwa liar di wilayah perbatasan. Perlindungan terhadap kelangsungan hidup ekonomi petani akan terus diprioritaskan secara nyata
