Pemerintah melalui dinas pengairan mempercepat penanganan ancaman abrasi pantai dengan membangun dinding penahan ombak berbahan batu gajah padat di sepanjang garis pantai permukiman. Penataan pesisir suak ribee difokuskan pada titik-titik pantai yang mengalami pengerusan daratan terparah akibat hantaman gelombang tinggi laut dalam beberapa tahun terakhir. Pembangunan struktur pemecah gelombang ini dirancang untuk meredam energi hempasan ombak sebelum mencapai garis pantai, sehingga erosi daratan dapat dihentikan secara efektif. Langkah penanganan ini sangat krusial guna menyelamatkan tambak warga dan rumah penduduk dari bahaya tenggelam.
Proses pengerjaan konstruksi pada kawasan pesisir suak ribee melibatkan alat berat ekskavator untuk menyusun susunan batu gajah berukuran besar membentuk benteng pertahanan pantai yang kokoh. Pemasangan pemecah gelombang sejajar garis pantai dibuat sepanjang ratusan meter dengan memperhitungkan arah angin dan karakteristik arus laut setempat. Selain struktur batu padat, petugas juga menanam ribuan bibit pohon mangrove di balik dinding penahan sebagai benteng vegetasi alami pencegah abrasi tambahan. Kombinasi infrastruktur fisik dan tanaman mangrove ini memperkuat daya tahan kawasan pesisir secara signifikan.
Kehadiran dinding penahan ombak di pesisir suak ribee langsung dirasakan manfaatnya oleh para nelayan dan warga yang tinggal berbatasan langsung dengan garis pantai. Hantaman gelombang tinggi kini tidak lagi merusak perahu nelayan yang disandarkan di pinggir pantai maupun merusak struktur pondasi rumah permukiman warga. Sedimentasi pasir secara perlahan mulai terbentuk kembali di area belakang dinding pemecah ombak, menciptakan daratan baru yang stabil. Warga kini dapat tidur dengan tenang tanpa rasa cemas akan ancaman luapan ombak laut saat cuaca buruk tiba.
Para nelayan lokal mengapresiasi tinggi rampungnya pembangunan struktur penahan ombak yang kini juga difungsikan sebagai area kolam labuh perahu nelayan tradisional yang aman. Proses bongkar muat hasil tangkapan ikan kini dapat dilakukan dengan mudah dan lancar tanpa terganggu oleh goyangan gelombang air laut. Pihak dinas terkait akan terus memantau kondisi fisik susunan batu pemecah ombak secara berkala guna mengantisipasi jika terjadi pergeseran posisi akibat badai laut. Perawatan rutin akan dilakukan demi memastikan struktur bangunan tetap berfungsi sempurna.
Diharapkan pembangunan sarana pelindung pantai ini dapat terus dilanjutkan ke area pesisir tetangga yang juga membutuhkan penanganan abrasi serupa dari pemerintah. Keberhasilan proyek infrastruktur ini membuktikan komitmen pemerintah dalam melindungi keselamatan dan aset perekonomian warga masyarakat pesisir pantai. Sinergi antara pembangunan sarana fisik dan pelestarian ekosistem mangrove menjadi kunci utama ketahanan wilayah pesisir dari dampak perubahan iklim global. Kawasan pesisir kini hadir lebih aman, kokoh, dan siap mendukung mata pencaharian nelayan lokal.
